Minggu, 16 Oktober 2016

Impor beras yang mempengaruhi perekonomian Indonesia

Beras merupakan makanan masyarakat Indonesia. Bukan hanya di Indonesia,di benua Asia pun mayoritas penduduknya mengonsumsi beras sebagai makanan pokok. Tidak heran bila benua Asia merupakan wilayah produksi beras tertinggi di dunia.  Salah satunya Indonesia, di Indonesia presentase hasil produksi beras mencapai 90% dan menjadi negara ke 3 penghasil beras terbanyak di dunia.

Namun,faktanya Indonesia masih mengimpor beras,Terakhir pemerintah mengimpor beras dari Vietnam pada November 2015 sebanyak 1,5 juta ton. Wapres Jusuf Kalla beralasan kekeringan pada bulan Agustus dapat memicu kurangnya hasil gabah ditahun tersebut. masalah impor beras selalu menjadi perdebatan sengit. Pihak yang pro berargumen bahwa kebijakan impor beras diperlukan untuk menjaga ketahanan pangan serta stabilitas harga beras nasional.

Namun pihak yang kontra menentang kebijakan ini dengan alasan Indonesia sebagai negara agraris seharusnya mampu memproduksi beras untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri tanpa harus bergantung dengan melakukan impor beras. Impor beras dianggap sebagai cara menghilangkan kedaulatan pangan Indonesia dan menyebabkan kurangnya Pendapatan Nasional yabg diperoleh Indonesia.

BULOG yang seharusnya bertugas dalam pembelian gabah hasil panen dari petani dianggap kurang menjalankan fungsinya. Selama ini, pemerintah melalui BULOG membeli gabah dan beras bukan dari petani. Akan tetapi dari pedagang beras, yang terkonsentrasi di tangan beberapa distributor besar (atau tengkulak), yang bertindak sebagai oligopolis pasar. Jumlah penjual yang sangat terkonsentrasi ini menyebabkan setiap kenaikan harga gabah/beras, yang merupakan peningkatan defisit APBN, akan lebih banyak jatuh bukan pada petani akan tetapi sekedar dinikmati segelintir pedagang.
Ilustrasi menarik tentang kekuatan oligopoli pedagang beras ini dengan sangat gamblang dijelaskan dalam satu tulisan Deputi Menko Perekonomian, Bayu Krisnamurthi, di Harian Republika (24/01/2006). Menurut Bayu, Bulog hanya mampu menyerap sekitar 10 ton dari surplus yang dikabarkan mencapai 2,7 juta ton pada tahun 2005. Selebihnya ditahan oleh para pedagang untuk berbagai alasan.

pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori mengatakan sebetulnya impor beras di Indonesia tidak besar, hanya 3 - 4 persen dari kebutuhan konsumsi beras secara nasional. Walau demikian, Khudori mengakui pemerintah harus membuat terobosan untuk memaksimalkan keterserapan gabah nasional oleh Bulog. "Karena faktanya di Yogyakarta saja, ada 3 pedagang besar bisnis beras. Masing-masing orang tersebut, mampu menyerap gabah nasional dalam setahun lebih besar dari kemampuan serap Bulog dalam setahun. Jadi ini memang yang harus dibenahi," jelas Khudori.

Beberapa sumber juga menyebutkan berbagai saran supaya Pemerintah tidak lagi mengimpor beras salah satunya dengan menaikan anggaran pada sektor pertanian supaya dapat meningkatkan kualitas gabah sehingga tidak kalah dengan kualitas beras impor dan melakukan Operasi Pasar Terbuka terhadap tengkulak yang menampung beras milik petani untuk menstabilkan harga. Hal ini tentunya harus diimbangi dengan manajemen stok yang baik.

Sekian yang dapat saya jabarkan dalam penulisan saya kali ini, mohon maaf apabila ada kekurangan dalam penulisan Dan saya ucapkan terimakasih kepada sumber-sumber yang saya jadikan referensi dalam penulisan saya ini. Saya berharap tulisan saya ini dapat diterima dengan baik dan dapat bermanfaat serta menginspirasi banyak orang terutama diri saya pribadi.

DAFTAR PUSTAKA :
https://afdhalrizqi.wordpress.com/2012/03/29/masalah-ekonomi-ekspor-dan-impor-beras-di-indonesia/

http://m.suara.com/bisnis/2015/12/26/123106/indonesia-selalu-impor-beras-ini-sebabnya